Minggu, 23 Agustus 2015

BELANDA, LADANG INOVASI PERTERNAKAN DUNIA

Belanda merupakan negara yang terletak pada muara sungai yang rata dan rendah dengan wilayahnya sekitar 41.528 kilometer persegi, lebih kecil enam ribu kilometer persegi dari luas Jawa Timur. Hal tersebut memberikan ciri yang unik pada lanskapnya dengan hamparan pemandangan yang luas dengan bentang langit yang tak putus (nesoindonesia, 2015), sehingga sangat menguntungkan dalam bidang pertanian dan peternakan Belanda. 20% perekonomian Belanda ditopang dari agroindustri (Harianto, 2010). Menurut data statistika dari kementrian Belanda, sektor pertanian telah menyumbang 9,2% dari total GDP dan 9% penyerapan tenaga kerja pada tahun 2012 (Achmad, 2013). Lebih dari setengah, dari total permukaan tanah Belanda sebesar 4,15 juta hektar digunakan sebagai lahan pertanian. Pertanian di Belanda menggunakan sistem produksi yang efisien dan berkelanjutan. Sehingga saat ini Belanda masih memimpin mesin pasar global khususnya dibidang peternakan pada produk unggas, pengolahan daging merah, roti dan keju. (HollandTrade, 2013). 

 Selain holtikultur, peternakan di Belanda juga memegang kunci penting dari kemajuan pertanian Belanda. Inovasi dalam bidang peternakan terus dilakukan, seperti higienitas dan sanitasi; pakan; breeding; kesehatan dan animal welfare; serta pemasaran produk. Hal tersebut dilakukan agar didapatkan produk yang berkualias tinggi hingga sampai kekonsumen. Riset dan pengembangan dalam bidang peternakan juga dilakukan oleh pemerintah Belanda, misalnya menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi dan membentuk beberapa organisasi, seperti LTO, NZO dan ZulvelNL dalam bidang sapi perah; DPC di bidang unggas; dan NGZO di bidang kambing domba. Melalui organisasi inilah, pemerintah Belanda juga dapat menjalin kerjasama dengan beberapa perusahaan besar, seperti yakult europe, frieslandCampina, Danone dan yang lainnya (Zuivelnl, 2013; EDA, 2010).

Inovasi Belanda di bidang peternakan
Perunggasan
Unggas yang dibudidayakan di Belanda adalah ayam pedaging, peterlur, kalkun, dan yang lain. Tingkat konsumsi daging paling tinggi berasal dari ayam pedaging yakni 305,600 ton atau 18.5 kg per kapita. Selain daging, telur juga menjadi salah satu bahan pangan penting di Belanda. Telur banyak dimanfaatkan dalam pembuatan eskrim, roti, dan pasta. (PVE, 2013). Salah satu contoh inovasi yang dilakukan dibidang perunggasan adalah TopKip, mesin pemotong ayam. TopKip dapat meminimalisir terjadinya memar dan patah tulang pada ayam pasca pemotongan serta mengutamakan animal welfare (agar ayam tidak stress) sehingga didapat daging dengan kualitas tinggi. Efisiensi produksi yang didapat telah meningkatkan laba sebesar € 0,53 per ekor atau rata-rata € 12.500 per peternakan per tahun. Dengan TopKip, ayam mendapatkan pelukan hangat sebelum disembelih (smith, 2012).



Sapi perah
Belanda sangat khas dengan hamparan padang rumput hijau, kincir angin dan sekumpulan sapi berwarna hitam putih. Peternakan sapi perah di Belanda sangat diperhatikan oleh pemerintah. Belanda memiliki sekitar17.800 peternakan sapi dengan hampir 1,55 juta ekor sapi dengan prosuksi susunya sekitar 12,4 milyar kg. Pemerintah sendiri telah menyediakan lahan seluas 1,2 milyar hektar khusus untuk sapi-sapi perah ini merumput, luasnya hampir 28% dari luas Belanda sendiri. Selain dikonsumsi langsung, susu di Belanda juga diolah menjadi beberapa macam makanan, seperti keju, susu bubuk, fresh milk, butter dan lainnya (Zuivelnl, 2013). Dairyfoods.com (McCurry .2012). Nilai produksi kotor (GPV) dari peternakan sapi perah sebesar € 4,9 milyar (18 % dari total pertanian), jika dirupiahkan kurang lebih 193,2 triliun rupiah, angka yang fantastis untuk sapi perah.

Inovasi pada sapi perah telah dilakukan pemerintah Belanda yang diwakili oleh Dutch Dairy Board dengan universitas wageningen mengenai solusi gas metana yang dihasilkan dari peternakan sapi perah yakni Low-Emisi Animal Feed. Hasil penelitian ini ditukar dengan proyek-proyek nasional lainnya seperti ‘cows and opportunitie’, dan hasilnya juga digunakan untuk mengembangkan alat-alat praktis seperti ‘Carbon Feed Print’ dan Annual Nutrient Cycling Assessment’ agar dapat membantu peternak untuk berkontribusi dalam mengurangi metana (Dijkstra, 2015).
Sapi pedaging; kambing dan domba; serta babi.
Populasi sapi pedaging; kambing dan domba; serta babi pada tahun 2012 berturut- turut adalah 2,3 juta; 1, 4 juta ; 12,2 juta ekor dan turut serta mengisi jadwal padat eksport dan import di Belanda. Selain dimanfaatkan dagingnya, susu dari kambing domba juga dikembangkan di Belanda. Sektor peternakan babi di Belanda telah memiliki jaminan dari segi keamanan dan kualitas selama bertahun-tahun. Jumlah konsumsi dari daging babi sendiri juga tidak sedikit yakni 41 kg per orang (PVE, 2012).

Inovasi juga dilakukan pada peternakan sapi pedaging dan babi. Baru-baru ini, van den Broek, produsen makanan kemasan di Waalwijk, Belanda, telah menemukan bagaimana daging sapi segar agar dapat disimpan lebih lama dengan menambah sealant DuPont’s Surlyn® pada kemasan Hibassk high-barrier (Spinner, 2013). Dari sektor peternakan babi, inovasi juga dilakukan oleh desainer dan peneliti di Utrecht School of the Arts dan Wageningen UR yakni game untuk babi. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kondisi binatang (agar tidak stress) serta mengurangi agresi antar babi (menggigit ekor) sehingga didapatkan hasil ternak (daging) yang berkualitas. Cara bermainnya cukup mudah, Seekor babi mengikuti cahaya di dinding yang dikendalikan oleh seseorang melalui iPad, apakah anda ingin mencobanya? (Hsu, 2012).
Pengolahan hasil peternakan
Keju merupakan salah satu olahan hasil peternakan yang paling terkenaldi Belanda (55,8%). Makanan yang berbahan dasar dari susu ini telah dibuat pada masa Julius Caesar dan sempat menjadi produk unggulan bagi Belanda pada tahun 1970-an. Rasa khas dari keju belanda yang manis telah dijaga secara turun-temurun oleh generasinya. Nama-nama keju Belanda pun bermacam-macam, disesuaikan dengan nama kota dimana keju itu dibuat, seperti Edam, Zeekraalkaas, Friesian, Gouda, Leiden, Maasdam, dan yang lain (Anonimous, 2013; Nusrat, 2012). Belanda telah menunjukkan keahliannya dalam membuat keju dengan berbagai macam tekstur dan nama. Inovasi terbaru dari DSM, mereka menyebutkan telah membuat keju inovatif dengan bahan pilihan dan teknologi yang terbaru sehingga diperoleh hasil keju yang fleksibel sehingga dapat dibentuk sesuai keinginan konsumen. Seperti apa jelasnya, saya pun penasaran dan ingin melihatnya langsung (DSMfood, 2014).


(www.dutchreview.com , www.hollandfoodpartner.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar